“Senior Zhu Rui mau melawannya?” bisik salah satu murid dengan nada tak percaya. “Meski tanpa qi spiritual, kekuatan fisik dan pengalamannya jauh di atas Xiao Ling.”

“Bodoh, ini memang bukan duel biasa,” sahut yang lain dengan nada sebal. “Ini pelajaran buat pemuda itu. Supaya dia tahu tempatnya. Biar tidak ada lagi orang luar yang berani meremehkan sekte kita.”

"Kali ini pasti senior Zhu Rui tidak akan melepaskannya begitu saja." jawab yang lainnya.

"Baguslah. Dengan begini, senior bisa mewakili membalaskan rasa cemburu para murid pria yang mengidolakan senior Ling Mei selama ini." batin beberapa murid.

Suasana mulai memanas. Para murid berkumpul makin rapat, membentuk setengah lingkaran di sekitar mereka. Beberapa bahkan berhenti latihan dan mulai memasang taruhan diam-diam.

Namun Lynx tetap bersikap santai. Tatapannya masih tenang, senyumnya tetap mengambang. Ia menatap langsung ke arah Zhu Rui, seolah berkata, “Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan.”

"Bagus. Ayo, keluarkan pedangmu," ujar Zhu Rui dengan senyum melebar, suaranya penuh percaya diri. Tanpa ragu, ia bergerak cepat memotong ranting dari pohon di dekatnya. Gerakannya ringan dan lincah, seperti ingin memperlihatkan penguasaannya atas teknik dasar.

"Aku tidak membawa pedang," jawab Lynx santai.

"Lagian untuk apa aku menggunakan pedang hanya untuk menghadapinya. Tanpa pedang pun aku bisa menghancurkan dunia ini." batin Lynx.

Zhu Rui tertawa keras, bahunya terguncang saat tawanya menggema. "Hahaha... kamu seorang kultivator, tapi tidak membawa pedang? Apa kamu pikir ini dunia lelucon? Kalau bertemu musuh sungguhan, kamu akan mati sebelum sempat membuka mulut!"

Mendengar kata-kata Zhu Rui, suara tertawa para murid yang mengelilingi mereka terdengar dari berbagai sisi.

Namun dalam hati, Zhu Rui menyimpan keraguan, matanya menjelajahi tubuh Lynx. Ia mencibir dalam batinnya, "Pasti dia menyembunyikan senjatanya di cincin penyimpanan atau kantong penyimpanan, sepertinya cincin yang digunakannya terlihat tidak biasa. Tak mungkin dia benar-benar datang tanpa persiapan. Tapi biarlah... aku tidak mau dia pakai itu sebagai alasan untuk menghindar."

Zhu Rui menoleh pada Deng Wei yang berdiri ragu di sisi lapangan. "Deng Wei, pinjamkan pedangmu. Jangan khawatir, aku pastikan pedangmu akan baik-baik saja."

Deng Wei menunduk sedikit, lalu menyerahkan pedangnya dengan wajah tak tenang. Lynx menerimanya dengan anggukan lembut.

"Terima kasih. Aku akan menjaganya. Tidak usah cemas," ucap Lynx, suaranya tulus namun tenang, seperti tak ada beban sama sekali.

Begitu mereka berdua bersiap, kerumunan murid dan para senior yang penasaran segera mendekat. Beberapa bahkan berebut tempat terdekat agar bisa melihat lebih jelas. Sorak kecil dan bisikan mulai terdengar, kebanyakan menanti saat Zhu Rui mempermalukan pemuda misterius itu di hadapan semua orang.

"Xiao Ling."

Zhu Rui menyebut namanya sambil memutar-mutar ranting di antara jemarinya yang santai, tatapannya tajam namun mengandung senyum tipis yang penuh tantangan.

"Sebelum kau melawan Deng Wei, aku dengar kau sempat menghindari jurus Blazing Mountain Strike dari Peng Tao. Dia itu cuma murid luar, masih belajar, tapi jurus itu sudah bisa kau hindari. Sekarang, aku akan tunjukkan seperti apa wujud sebenarnya jurus itu kalau digunakan oleh tangan yang sudah matang dalam latihan."

Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu melambai singkat ke arah Lynx, memberi isyarat untuk mulai.

"Ayo maju."

Namun Lynx hanya membalas dengan senyum tipis dan tetap berdiri di tempat. Posturnya santai, tidak sedikit pun memasang kuda-kuda. Pedangnya ia genggam terbalik, tersembunyi di balik lengan. Sikapnya tenang, seolah yang dihadapinya bukanlah pertarungan.

"Senior saja dulu yang mulai. Aku akan berusaha menghindar," ujarnya ringan.

Tawa pelan menyebar di antara para murid yang menonton. Beberapa mulai berbisik sambil menahan tawa mereka.

"Haha, dia takut rupanya!"

"Dia pasti tahu jurus milik senior Zhu Rui bukan main-main. Belum mulai saja sudah mundur."

"Sebentar lagi dia juga pasti roboh, tunggu saja."

Zhu Rui mendengus, tidak terpengaruh. Ia mengangkat satu kaki lalu menghentakkannya ke tanah dengan keras. Debu beterbangan, dan tubuhnya langsung mengambil posisi siap bertarung. Sorot matanya tajam, suaranya menggelegar.

"Kau tahu, teknik ini seharusnya membangkitkan elemen api. Tapi tenang saja, aku akan menahannya. Kali ini cukup dengan kekuatan fisik. Bersiap!"

"Blazing Mountain Strike!"

Tubuh Zhu Rui menghilang dalam sekejap, lalu muncul kembali secepat bayangan, tepat di hadapan Lynx. Kepalan tangannya membesar, bukan secara fisik, tetapi karena tekanan energi yang terfokus dan membentuk distorsi di udara. Pukulan itu meluncur deras, seperti meteor yang tak bisa dibendung, menuju dada Lynx.

Brak!

Satu dentuman keras bergema. Lynx terdorong mundur beberapa langkah, tubuhnya tampak berguncang pelan. Ia menahan dadanya dengan satu tangan, napasnya terlihat seperti terputus sesaat, dengan raut wajahnya terlihat berubah, seperti menahan rasa sakit.

"Dia masih berdiri?" bisik salah satu murid, matanya membelalak.

"Dia cuma mundur sedikit... Senior pasti menahan serangannya."

"Tentu saja, kalau serius, dia pasti sudah terpental jauh ke belakang!"

Namun Zhu Rui sendiri mulai merasakan ada yang tak beres. Matanya menyipit, peluh mengalir pelan di sisi wajahnya meski angin pegunungan berembus dingin. Ia menatap Lynx, dan dalam diam, hatinya bergemuruh.

"Tak masuk akal... Memang aku menahan sebagian tenaga, tapi bahkan dengan kekuatan yang kutahan itu, tubuh manusia biasa seharusnya sudah ambruk! Tapi dia... dia hanya mundur sedikit. Seolah... seolah pukulanku tidak benar-benar menyentuh apa-apa. Rasanya seperti menghantam air."

Perasaan aneh mulai merayap dalam benaknya. Ketegangan yang awalnya samar kini mulai menebal, menyusupi keyakinannya. Tapi wajahnya tetap ia paksakan untuk tetap tenang, kendati dalam hatinya, benih kecurigaan perlahan tumbuh... dan rasa takut mulai mengintip dari celahnya.

"Terima kasih, Senior, karena telah menahan kekuatanmu," ucap Lynx sambil sedikit membungkuk sopan. Wajahnya ramah, suaranya tenang.

"Kalau kau menyerang dengan seluruh kemampuanmu, aku pasti sudah tak sanggup bertahan."

Ia pura-pura terengah ringan, memberi kesan bahwa serangan itu nyaris membuatnya tumbang. Namun dalam hatinya, ia tertawa pelan. Pukulan seperti itu... bahkan jika datang dari sejuta orang sekaligus, tetap tidak akan terasa sedikit pun.

Zhu Rui tertawa, namun tawanya terdengar canggung, terpaksa, seperti sedang mencoba menutupi kegelisahan yang mulai merayap di balik senyum.

"Ya, ya... hahaha... mungkin dia hanya beruntung. Atau siapa tahu, pakai artefak pelindung. Tapi baiklah, jurus berikutnya akan memastikan dia tak bisa berdiri santai lagi."

"Bagaimana, apa kamu masih sanggup? Atau sudah takut? Aku akan melanjutkan jurus berikutnya," ucap Zhu Rui dengan nada meremehkan, alisnya sedikit terangkat dan suara sengaja diturunkan, menekan gengsi di depan murid-murid yang mengamati.

"Silakan, Senior," jawab Lynx santai, dengan nada datar dan sikap yang tak berubah sedikit pun. Ia masih berdiri dengan tenang, bahkan matanya tak menunjukkan ketegangan sama sekali.

Zhu Rui menggenggam ranting di tangannya lebih erat, lalu melangkah ke depan dengan semangat yang berapi-api. Tubuhnya sedikit condong, sorot matanya tajam menusuk. Qi dalam tubuhnya ditahan tepat di bawah permukaan kulit, seperti lautan tenang yang menyembunyikan badai. Kali ini, dia hanya mengandalkan kekuatan fisik murni.

"Bersiaplah. Kali ini aku akan meniru jurus Deng Wei sendiri. Biar matamu terbuka... melihat perbedaan antara orang yang ahli dan orang yang hanya main-main." Ucapan itu ia arahkan dengan sengaja ke arah Deng Wei, seolah ingin menunjukkan sesuatu.

Zhu Rui berseru keras, suaranya bergema ke seluruh penjuru halaman.

"Thousand Blazing Sword Strikes!"

Dalam sekejap, ratusan bayangan ranting melesat, mencabik udara dari segala arah. Setiap sabetan menciptakan gelombang tekanan, berdesing seperti anak panah yang ditembakkan bersamaan. Udara di sekeliling bergetar, angin menderu, menyapu kerikil dan daun-daun yang beterbangan di seluruh lapangan. Bayangan-bayangan itu mengurung Lynx dari segala sisi, membentuk pusaran menyerupai badai tajam yang mustahil ditembus.

"Ah! Lihat itu!" seru salah satu murid dari kerumunan.

"Serangan itu... susah sekali dihindari! Apalagi dilakukan oleh Senior Zhu Rui!"

"Benar. Meskipun hanya ranting, kekuatan tetaplah kekuatan. Aku saja cuma bisa menciptakan belasan bayangan saat latihan. Tapi itu... itu ratusan!"

